Rabu, 29 Agustus 2012

IDENTIFIKASI PENGEMBANGAN KURIKULUM PGSD S1 PENDIDIKAN JASMANI FIK UNM


IDENTIFIKASI PENGEMBANGAN KURIKULUM PGSD S1


PENDIDIKAN JASMANI FIK UNM





Imam Suyudi, **)


FIK Universitas Negeri Makassar





ABSTRAK

      Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil mahasiswa PGSD S1 Pendidikan Jasmani, gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM, serta mata kuliah yang sangat penting di kuasai untuk bekal menjadi seorang guru pendidikan jasmani di SD. Penelitian ini termasuk jenis penelitian survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM dengan jumlah sampel penelitian 50 orang yang dipilih secara random sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis dengan menggunakan persentase.
      Bertolak dari hasil analisis data, maka penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenangan para mahasiswa untuk berolahraga sewaktu masih duduk di bangku sekolah sebanyak 96 %, menjadi modal mereka untuk mengikuti perkuliahan khususnya dalam mata kuliah praktek yang persentasenya sekitar 60 %. Gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM yang lebih dominan adalah mata kuliah praktek cabang olahraga yang berorientasi kepada pendekatan metode bermain melalui modifikasi peraturan dan sarana prasarana. Mata kuliah yang sangat penting di kuasai untuk bekal menjadi seorang guru pendidikan jasmani di SD yakni lebih dominan memilih mata kuliah yang berkaitan langsung dengan karakteristik murid SD.

Kata Kunci : Identifikasi, pengembangan, kurikulum, dan pendidikan jasmani.


ABSTRACT

      This Research bent on be for identification student profile elementary schoolteacher education S1 Physical education, picture of curriculum characteristic elementary schoolteacher education S1 Physical education faculty of sportmanship science state university makassar, and of vital importance course eye control for stock become a physical education teacher in grade school. This Research is entered research type survey. Research Population this is the all student of study programs elementary schoolteacher education S1 Physical education faculty of sportmanship science state university makassar with amount sample research 50 one whos are selected in random sampling. Technique of data analysis that used [by] is analysing by using percentage.
      Starting from result of data analysis, then this research concludes that easiness [of] students to do physical exercise when have been sat in school [of] bench 96 %, become their capital to follow lecturing specially in eye of practices course that its percentage around 60 %. Picture of curriculum characteristic elementary schoolteacher education S1 Physical education faculty of sportmanship science state university makassar that more dominant is eye of branch practices course sport was that orientation to method of approach played pass by regulation modification and medium. Of vital importance course Eye control for stock become a physical education teacher in grade school namely more dominant select direct and interconnected course eye with pupil characteristic grade school.

Keyword : Identification, development, curriculum, and physical education.

Pendahuluan
      Pada zaman sekarang pendidikan adalah modal utama bagi semua insan, sebab usaha pendidikan adalah usaha untuk meletakkan dasar pengetahuan kepada anak didik. Oleh karena itu maka kegiatan pendidikan perlu semakin ditingkatkan mutu dan kualitasnya, serta perlu ditingkatkan sarana dan prasarana utamanya yang berkaitan dengan pembinaan keolahragaan agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan lancar.
      Olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani atau kegiatan fisik berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian pelakunya, selain itu olahraga adalah usaha untuk mendorong, membangkitkan, pengembangan dan membina kekuatan jasmani dan rohani. Mengingat begitu sangat pentingnya kegiatan olahraga maka pemerintah memasukkan kegiatan olahraga di sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai di Perguruan Tinggi.
Olahraga melalui tinjauan antropologis mengungkapkan tentang kelebihan manusia dan menempatkannya sebagai makhluk yang sempurna. Rusli Lautan (1988:4) mengungkapkan di dalam bukunya bahwa “ Gerak manusia terwujud dalam pola atau struktur yang lebih luas. Gerak pada manusia tidak sekedar aktifitas jasmani tanpa sadar, tetapi lebih banyak di dasarkan pada tujuan yang dicapai.
      Berdasarkan hal tersebut di atas, maka olahraga dapat dikaji melalui dimensi biologis, psikis dan sosial budaya. Hal ini menjadikan olahraga moderen memiliki wilayah kegiatan yang sangat luas. Perhatian pada olahraga di Indonesia tertuju pada berbagai kegiatan antara lain olahraga kompetitif, olahraga profesional, olahraga rekreatif dan olahraga pendidikan. Melalui uraian maka kegiatan olahraga merupakan aktivitas fisik untuk meragakan keterampilan gerak dengan tujuan tertentu.
      Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya  dan pembangunan nasional. Aset suatu bangsa tidak terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan yang kekal dan investasi untuk mencapai kemajuan bangsa. Di dalam undang-undang No. 2 / 1989 Pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan Nasional.
      Peningkatan mutu pendidikan dasar berlaku menyeluruh, termasuk di dalamnya adalah pendidikan jasmani. Banyak factor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan jasmani. Salah satu factor yang amat menentukan adalah kemampuan guru. Sebagaimana kita ketahui bahwa jumlah guru pendidikan jasmani di SD sangat terbatas, sehingga pengajaran pendidikan jasmani sebagian besar masih ditangani oleh guru kelas. Kita menyadari bahwa bekal untuk meningkatkan pendidikan jasmani di SD meliputi aspek materi, metode / cara penyajian, sarana dan prasarana serta pengelolaan proses belajar mengajar.
      Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah di sadari oleh banyak kalangan. Namun, dalam pelaksanaannya pengajaran pendidikan jasmani berjalan belum efektif seperti yang diharapkan. Pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model pembelajaran pendidikan jasmani tidak harus berpusat pada guru tetap pada siswa.
      Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, isi dan urutan materi serta cara penyampaian harus disesuaikan sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi pada perkembangan pribadi anak seutuhnya. Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pengajaran pendidikan jasmani yang efektif perlu dipahami oleh mereka yang hendak mengajar pendidikan jasmani.
      Menurut Oemar Hamalik (2008:3) kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah. Kurikulum yang telah di susun untuk diterapkan kepada mahasiswa sebagai perwujudan dari calon-calon tenaga pengajar yang profesional serta ahli dibidangnya, tentunya diharapkan kelak akan menjadi pion-pion terdepan yang akan menjawab tantangan pendidikan jasmani di masa yang akan datang. Deretan jumlah mata kuliah dengan sekian SKS yang telah diformulasikan sebagai prasyarat yang wajib harus dilulusi sebagai bekal mereka menjadi seorang calon guru pendidikan jasmani.
      Pendidikan Guru Sekolah Dasar Strata Satu (PGSD S1) yang merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru sekolah dasar, yang nantinya setelah menyelesaikan studinya diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah. Khusus untuk PGSD S1 Pendidikan Jasmani, tentunya diharapkan untuk mengajarkan pendidikan jasmani pada jenjang sekolah dasar yang berorientasi bagaimana untuk meningkatkan kebugaran peserta didiknya lewat pembelajaran gerak.
Uraian pada bagian latar belakang masalah di atas, dapat melahirkan banyak permasalahan. Melalui bagian rumusan masalah ini merupakan upaya untuk menyatakan secara jelas pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicari jawabannya. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah;   (1). Bagaimana profil mahasiswa PGSD S1 pendidikan jasmani FIK UNM,  (2). Bagaimana gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM, (3). Mata kuliah apakah yang sangat penting di kuasai untuk bekal menjadi seorang guru pendidikan jasmani di SD.
      Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut : (1). Profil mahasiswa PGSD S1 pendidikan jasmani FIK UNM, (2). Gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM, (3). Mata kuliah yang sangat penting di kuasai untuk bekal menjadi seorang guru pendidikan jasmani di SD.
      Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi tentang; (1). Profile mahasiswa PGSD S1 pendidikan jasmani, sebagai titik tolak dalam mendesain untuk menciptakan tenaga-tenaga guru SD pendidikan jasmani yang lebih profesional dan berkualitas dibidangnya,     (2). Dengan adanya hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dalam upaya mengembangkan kurikulum pendidikan jasmani pada umumnya dan kurikulum PGSD S1 pada khususnya, dalam mempersiapkan calon-calon tenaga pengajar yang lebih bermutu, (3). Manfaat lain dari hasil penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengembangkan suatu kurikulum.

Metode Penelitian
      Jenis penelitian ini adalah non eksperimen lazim dikelompokkan sebagai jenis penelitian deskriptif (kualitatif) yang berbentuk analisis dan persentase. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas adalah : (1) profile mahasiswa PGSD S1 pendidikan jasmani (2) gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 pendidikan jasmani (3) mata kuliah penunjang guru SD pendidikan jasmani. Variabel terikat adalah identifikasi pengembangan kurikulum PGSD S1 pendidikan jasmani.
      Pelaksanaan penelitian maupun pengumpulan data penelitian ini agar lebih terarah, maka perlu diberi batasan-batasan atau definisi operasional variabel yang terlibat, (1). Profile mahasiswa adalah identitas pribadi dan yang menjadi motivasi mahasiswa untuk memilih jurusan pendidikan olahraga program studi PGSD S1 pendidikan jasmani, (2). Gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 pendidikan jasmani adalah menyangkut dengan proses perkuliahan, mulai dari beban SKS, administrasi pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, dan penilaian/evaluasi, (3). Mata kuliah penunjang guru SD pendidikan jasmani adalah sejumlah mata kuliah yang sangat mendukung dan sebagai bekal utama yang harus dikuasai untuk menjadi seorang guru pendidikan jasmani di sekolah dasar, (4).  Identifikasi pengembangan kurikulum adalah suatu upaya yang dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi pengembangan kurikulum kearah yang lebih baik lagi, dalam menciptakan calon-calon tenaga pengajar yang ahli dibidangnya khususnya guru pendidikan jasmani di sekolah dasar.
      Metode yang digunakan dalam penelitian mengidentifikasi pengembangan kurikulum PGSD S1 pendidikan jasmani adalah metode ex post facto dengan mengadakan survey berupa angket dan wawancara pada mahasiswa program studi PGSD S1 pendidikan jasmani di FIK UNM. Penelitian tentunya selalu menggunakan obyek untuk diteliti atau diistilahkan dengan populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi PGSD S1 pendidikan jasmani Fakultas Ilmu Keolahragan Universitas Negeri Makassar. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi PGSD S1 pendidikan jasmani sebanyak 50 orang semester tinggi, dan dipilih secara stratifide random sampling.
      Salah satu prosedur penelitian dan untuk menentukan bagaimana cara memperoleh data mengenai variabel yang di teliti, maka digunakan suatu instrument penelitian yang sesuai dengan variabel yang terlibat. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket (Quisioner). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan persentase.

Hasil Penelitian
      Data hasil penelitian dari tiap-tiap indikator yang diperoleh dari hasil angket, selanjutnya di analisis setiap indikatornya. Rangkuman tiap-tiap indikatornya dapat dilihat berikut ini :
Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 8 % (4 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 60 % (30 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 32 % (16 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen mempersiapkan mahasiswa untuk belajar.
Berdasarkan perhitungan presentase di peroleh bahwa 16 % (8 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 64 % (32 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 20 % (10 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen merepleksi materi yang lalu sebelum memulai pembelajaran.
      Berdasarkan perhitungan presentase di peroleh bahwa 2 % (1 orang mahasiswa) menganggap sangat tidak baik, 12 % (6 orang mahasiswa) yang menganggap tidak baik, 18 % (9 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 48 % (24 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 20 % (10 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen melakukan kontrak perkuliahan dengan mahasiswa sebelum memulai perkuliahan.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 54 % (27 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 46 % (23 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menyampaikan tujuan pembelajaran kepada mahasiswa sebelum memulai perkuliahan.
Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 14 % (7 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 54 % (27 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 32 % (16 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menguasai materi pembelajarannya.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa  2 % (1 orang mahasiswa) yang menganggap tidak baik, 12 % (6 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 60 % (30 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 26 % (13 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan dalam perkuliahan.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 2 % (1 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 34 % (17 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 64 % (32 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menyampaikan materi dengan jelas dalam perkuliahan.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 2 % (1 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 38 % (19 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 60 % (30 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menggunakan bahasa lisan dan tulisan secara jelas, baik dan benar dalam perkuliahan.
Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 8 % (4 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 54 % (27 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 38 % (19 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menumbuhkan partisipasi aktif mahasiswa dalam setiap pembelajaran.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 2 % (1 orang mahasiswa) menganggap sangat tidak baik, 8 % (4 orang mahasiswa) yang menganggap tidak baik, 8 %  (4 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 54 % (27 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 28 % (14 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menguasai kelas dalam setiap perkuliahan.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa  4 % (2 orang mahasiswa) yang menganggap tidak baik, 16 % (8 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 64 % (32 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 16 % (8 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen melaksanakan pembelajaran secara berurut dalam proses perkuliahan.
Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 6 % (3 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 46 % (23 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 48 % (24 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif dalam setiap pembelajaran.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa  2 % (1 orang mahasiswa) yang menganggap tidak baik, 8 % (4 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 56 % (28 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 34 % (17 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menggunakan media secara efektif dan efesien dalam proses perkuliahan.
Berdasarkan bahwa hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 8 % (4 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 72 % (36 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 20 % (10 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menghasilkan pesan yang menarik dalam setiap pembelajaran.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa  6 % (3 orang mahasiswa) yang menganggap tidak baik, 20 % (10 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 42 % (21 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 32 % (16 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen melibatkan mahasiswa dalam pemanfaatan media dalam proses perkuliahan.
Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 4 % (2 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 60 % (30 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 36 % (18 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen memberikan tugas individu dan kelompok dalam setiap pembelajaran.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 2 % (1 orang mahasiswa) menganggap sangat tidak baik, 6 % (3 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 66 % (33 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 26 % (13 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen memberikan ujian tengah semester dalam setiap mata kuliah.
Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa  56 % (28 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 44 % (22 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen memberikan ujian akhir semester dalam setiap mata kuliah.
      Berdasarkan hasil perhitungan presentase di peroleh bahwa 4 % (2 orang mahasiswa) yang menganggap kurang baik, 28 % (14 orang mahasiswa) yang menganggap baik, dan sebanyak 68 % (34 orang mahasiswa) yang menganggap sangat baik tentang bagaimana dosen menentukan nilai akhir dengan indikator yang jelas dalam setiap mata kuliah.
      Berdasarkan data hasil penelitian profil mahasiswa  PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM, diperoleh beberapa data yang dapat menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum serta sebagai suatu pegangan  dalam menyusun suatu kontrak perkuliahan. Sehingga pelaksanaan perkuliahan dapat berjalan lancar. Adapun gambaran tentang profil mahasiswa dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini :
      Berdasarkan hasil perhitungan persentase di peroleh bahwa mahasiswa berasal dari Madrasah Aliyah sebanyak 5 orang (10 %), dari Sekolah Menengah Kejuruan sebanyak 7 orang (14 %), dan dari Sekolah Menengah Umum sebanyak 38 orang (76 %).
      Berdasarkan hasil perhitungan persentase di peroleh bahwa mahasiswa berasal dari daerah Bantaeng sebanyak 1 orang (2 %), Barru sebanyak 3 orang (6 %), Bone sebanyak 2 orang (4 %), Bulukumba sebanyak 9 orang (18 %), Enrekang sebanyak 2 orang (4 %), Jeneponto sebanyak 1 orang (2 %), Luwu Utara sebanyak 1 orang (2 %), Makassar sebanyak 8 orang (16 %), Mamasa sebanyak 1 orang (2 %), Palopo sebanyak 2 orang (4 %), Pangkep sebanyak 3 orang (6 %), Selayar sebanyak 1 orang (2 %), Sinjai sebanyak 6 orang (12 %), Soppeng sebanyak 1 orang (2 %), Takalar sebanyak 4 orang (8 %), Wajo sebanyak 4 orang (8 %).
Berdasarkan hasil perhitungan persentase di peroleh bahwa pekerjaan dari bapak mahasiswa yakni sebagai petani sebanyak 15 orang (30 %), pegawai negeri sipil sebanyak 14 orang (28 %), wiraswasta sebanyak 8 orang (16 %), dan lain-lain sebanyak 13 orang  (26 %).
      Berdasarkan hasil perhitungan persentase di peroleh bahwa pekerjaan dari ibu mahasiswa yakni sebagai petani sebanyak 2 orang (4 %), pegawai negeri sipil sebanyak 12 orang     (24 %), wiraswasta sebanyak 3 orang (6 %), dan ibu rumah tangga sebanyak 33 orang  (66 %).
      Berdasarkan hasil perhitungan persentase di peroleh bahwa mata pelajaran yang paling di senangi sewaktu duduk di bangku SMTA yakni yang menyenangi pelajaran olahraga/penjas sebanyak 48 orang (96 %), dan yang menyenangi pelajaran yang lain adalah  sebanyak 2 orang (4 %).
Berdasarkan hasil perhitungan persentase di peroleh bahwa inisiatif mahasiswa untuk memilih prodi PGSD S1 Pendidikan Jasmani atas inisiatif diri sendiri sebanyak 48 orang (96 %), dan atas inisiatif orang tua adalah sebanyak 2 orang (4 %).

Pembahasan
      Dari hasil analisis data yang telah dikemukakan dalam sub di atas, dikemukakan secara berurutan sesuai dengan rumusan masalah serta didukung oleh tinjauan pustaka yang berbentuk besaran persentase. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut : (1). Profil mahasiswa PGSD S1 pendidikan jasmani FIK UNM, dari sampel 50 orang mahasiswa yang di ambil lebih banyak berasal dari sekolah menengah umum yang mata pelajarannya sangat mendukung, sehingga pada pelaksanaan perkuliahan serta mata kuliah yang ditawarkan juga oleh prodi PGSD S1 Pendidikan Jasmani, tidak mengalami masalah yang berarti bagi mahasiswa karena pada pelaksanaannya yang dominan mata kuliah praktek dibandingkan dengan teori dengan perbandingan 60 % untuk mata kuliah praktek dan 40 % untuk mata kuliah teori. Hal ini sangat didukung dengan postur mahasiswa yang sesuai yakni dari hasil penelitian di peroleh komposisi badan dan tinggi badan sangat proporsional, serta mahasiswa sewaktu di bangku sekolah sangat senang berolahraga dan sebagian besar dari mereka adalah berasal dari daerah atau desa yang dominan pekerjaan orang tua mereka adalah petani, sehingga dengan sendirinya fisik mereka cukup terlatih dan kuat.     (2). Gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM, sesuai dengan data hasil penelitian melalui angket yang telah di sebarkan diperoleh bahwa pada prinsipnya proses perkuliahan berjalan dengan lancar, begitu pula dengan distribusi mata kuliah setiap semesternya telah tertata dengan baik, hanya saja sesuai dengan yang di peroleh pada data hasil penelitian memberi gambaran bahwa masih ada beberapa orang tenaga pengajar belum terlalu maksimal dalam hal pentransperan ilmu yang mereka miliki masih sangat sulit untuk di tangkap oleh sebahagian mahasiswa, sehingga sangat mempengaruhi lancarnya proses belajar mengajar yang terjadi. (3). Mata kuliah yang sangat penting di kuasai untuk bekal menjadi seorang guru pendidikan jasmani SD menurut mahasiswa yang telah menjadi objek penelitian ini adalah lebih condong kepada sederet mata kuliah praktek, karena pada prinsipnya untuk mengajar nantinya di sekolah dasar yang sangat di butuhkan oleh mereka adalah bagaimana guru mempraktekkan kemudian mereka ditiru dan kemudian murid mencoba melakukannya sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sehingga dengan sendirinya untuk mencapai hal tersebut yakni bagaimana mengajarkan penjas di SD dengan tanpa mengalami permasalahan, maka sebagai penawarnya adalah mahasiswa ini harus menguasai sebanyak mungkin teknik dasar tiap cabang olahraga yang mereka peroleh di bangku kuliah, serta bagaimana mengajarkannya dalam suasana yang riang gembira tanpa sedikit pun ada upaya untuk menyakiti mereka karena salah. Tentunya dalam pembelajaran yang mengedepankan tentang faktor modifikasi baik aturan maupun peralatan yang digunakan.

Kesimpulan
      Berdasarkan dengan hasil penelitian ini dapat di tarik beberapa kesimpulan : (1). Profil mahasiswa PGSD S1 pendidikan jasmani FIK UNM yang lebih banyak berasal dari sekolah-sekolah menengah umum yakni sebanyak  76 %, merupakan sesuatu yang dapat membantu mereka dalam proses perkuliahan khususnya mata kuliah teori yang persentasenya sekitar      40 %. Begitu pula dengan kesenangan para mahasiswa untuk berolahraga sewaktu masih duduk di bangku sekolah sebanyak 96 %, serta rata-rata bentuk tubuh mereka cukup proporsional. Sehingga dengan sendirinya inilah yang menjadi modal mereka untuk mengikuti perkuliahan khususnya dalam mata kuliah praktek yang persentasenya sekitar 60 %. Dengan demikian hal-hal inilah yang akan sangat membantu mereka dalam percepatan penyelesaian studi. (2). Gambaran karakteristik kurikulum PGSD S1 Pendidikan Jasmani FIK UNM yang lebih dominan mata kuliah praktek cabang olahraga yang berorientasi kepada pendekatan metode bermain melalui modifikasi peraturan dan sarana prasarana, hal inilah yang membuat seorang tenaga pengajarnya harus lebih kreatif sehingga akan memberikan ilmu atau pengalaman belajar kepada mahasiswa dengan maksimal. Karena ketercapaian suatu tujuan kurikulum akan sangat di tentukan oleh kualitas tenaga pengajarnya, dan di peroleh data bahwa 2 % mahasiswa menganggap tenaga pengajarnya kurang baik, 84 % baik, dan sekitar    14 % sangat baik dalam hal memberikan materi kuliah baik teori maupun praktek serta bagaimana mereka menyiapkan diri baik administrasi pembelajaran maupun media yang akan digunakan sebelum mengajar. (3). Mata kuliah yang sangat penting di kuasai untuk bekal menjadi seorang guru pendidikan jasmani di SD yakni lebih dominan memilih mata kuliah yang berkaitan langsung dengan karakteristik murid SD seperti mata kuliah: pertumbuhan dan perkembangan fisik, psikologi pendidikan jasmani, strategi belajar mengajar, manajemen pendidikan jasmani, serta pemanduan bakat. Disamping itu juga beberapa mata kuliah praktek untuk cabang olahraga seperti : atletik, uji diri (senam), aquatik (renang), serta beberapa olahraga permainan. Mata kuliah praktek dan teori harus senantiasa beriringan untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.

Saran-saran
      Berdasarkan kesimpulan penelitian ini di kemukakan beberapa saran sebagai berikut : (1). Para tenaga pengajar, di harapkan dalam membawakan mata kuliah haruslah senantiasa memperhatikan karakteristik atau kekhususan dari program studi PGSD S1 Pendidikan Jasmani yang berorientasi pada pembelajaran pendidikan jasmani dengan pendekatan metode bermain dan modifikasi peraturan pertandingan serta sarana prasarana. (2). Para mahasiswa, kiranya dalam proses perkuliahan khususnya mata kuliah praktek harus lebih serius memperhatikan agar dapat menguasai gerakan-gerakannya baik komponen gerak dasarnya atau teknik dasar cabang olahraganya, agar nantinya tidak mengalami hambatan pada waktu mengajar langsung di SD. (3). Para peneliti, diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini dengan ruang lingkup yang lebih luas lagi, sehingga dapat menjadi informasi yang lebih lengkap untuk memaksimalkan proses belajar mengajar.

Daftar Pustaka
Ahmad, Rusly. 1989. Perencanaan dan Desain Kurikulum dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdikbud.
Ali, M. 1984. Pengembangan Kurikulum. Bandung: Sinar Baru.
Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Gagne, Robert M. 1988. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran (Essential of Learning for Intstruction) Alih bahasa Abdillah Hanafi dan Abdul Manan. Surabaya: Usaha Nasional.
Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
-----------------------. 1990. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
-----------------------. 2007. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lutan, Rusli., dkk. 2002. Supervisi Pendidikan Jasmani (Konsep dan Praktik). Jakarta: Depdiknas.
McNeil, John D. 1990. Curriculum a Comprehensive Introduction, Fourth Edition, London, England, Foresman/Littlem Brown Higher Education. A Division & Illionois.
Munir, M.IT. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.
Nasution, S. 1995. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Print, Murray. 1993. Curriculum Development and Design. Sydney: Allen and Unwin.
Lutan, Rusli., dkk. 2002. Supervisi Pendidikan Jasmani, Konsep dan Praktik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Sagala, Syaiful. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Samsudin. 2008. Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan SD/MI. Jakarta: Litera Prenada Media Group.
Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Saylor, J.G., Alexander, W.M., dan A.J. Lewis. 1981. Curriculum Planning for Better Teaching and Learning. New York: Holt Renehart and Winston.
Sriyono, dkk. 1992. Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
----------, 1993. Metodik Khusus Pengajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar